YANG TERLUPAKAN
Jarang sekali aku berteriak. kalaupun aku berteriak, lama sekali mereka menghampiriku tapi lebih sering mereka mengacuhkanku.
***
Hari ini aku diam saja. Sebuah rutinitas yang -herannya- tidak membuat ku bosan. Bagaimana tidak, tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berteriak. Tadi pagi aku melihat sang Ayah sarapan sendiri dengan masakan yang dibuat Ibu. Anak-anak mereka masih terlelap dalam dunianya. Siang ini kulihat anak pertama berjalan keluar dari kamar dan menyantap tempe goreng yang ada dimeja makan. Yup, tepat, hanya meja makan yang bisa kupandang.
Hari semakin sore, kulihat anak-anak yang lain sudah bangun. Mereka semua -sayangnya- belum mandi dan mulai menyalakan televisi. Oh iya, aku juga dapat memandang televisi, aku lupa karena dari tadi aku hanya memandang meja makan tanpa merasa lapar. Acara televisi tidak banyak yang berguna, hanya saja iklannya kuanggap menarik. Ratusan iklan tentang penawaran pulsa murah bahkan gratis. Tidak hanya itu, handphonenya pun ditawarkan dengan harga yang sangat sangat murah.
Kini hari mulai gelap. Ku lihat sang Ibu tergopoh-gopoh berlari demi mengangkat handphonenya. Terdengar suara anak pertama yang sedang bercerita tentang -entahlah aku tak mendengar jelas- dengan iPhonenya. Televisi tetap menyala namun mata anak yang perempuan menatap Blackberrynya. ia sedang terhubung dengan dunia.
***
Sudah larut malam. terdengar dengkuran halus dari masing-masing kamar yang ada dirumah ini. aku pun sudah siap tidur ketika..
KRIIIIINNGGG!!!!… KRIINNGGGG!!!.. KRIINGGGGG
aku berteriak, dan tak ada yang mengacuhkanku..
seperti biasa.
dika.
Bekasi, 11 Oktober 2010
*sebuah flash fiction
flash fiction adalah sebuah cerita yang jawabannya terkadang tidak sesuai dengan yang ditebak pembaca atau bahkan membebaskan pembaca untuk menjawab sendiri akhir ceritanya. Dalam cerita ini penulis menceritakan pengalaman sehari dari sebuah telephone rumah yang pada masa kini sering terabaikan karena biasanya orang yang hendak menelpon cenderung langsung menelpon handphone kita apalagi biaya telephone ke handphone menawarkan harga sangat murah. seperti yang disinggung saat 'tokoh utama' melihat iklan di tv dan bagian akhir cerita yang menjelaskan 'tokoh' lainnya sedang asyik dengan telephone genggamnya masing masing.
Yang Terlupakan - Sebuah Flash Fiction
Sebuah cerita yang tercipta dan terinspirasi dari kisah sehari-hari dirumah:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar